Langsung ke konten utama

Tentang Mengelola Rssa Takut

Takut mungkin adalah salah satu hal yang wajar dihadapi seseorang. Seringkali ketakutan yang belum terjadi terlintas di benakku begitu saja. Misalnya pada saat mengajar di TK dulu, ada salah satu siswa yang memang kuhindari karena siswa ini keras kepala, melebihi keras kepalanya siswa lain di kelas. Dan memang siswa tipe ini sulit untuk ku hendel dan atasi. Aku lebih memilih menghindari dan menyerahkan siswa ini ke rekanku karena ku anggap beliau lebih mampu. Nah, ketika aku pindah mengajar ke SD, baru ku ketahui bahwa anak ini masih melanjutkan ke SD di naungan yang sama ketika di TK dulu. Terlintaslah dihatiku saat itu bahwa jangan sampai aku mengajar anak ini lagi. Dari banyak kelas di SD tersebut jangan sampai aku mengajar di kelas anak ini lagi batinku, jangan sampai.
Lantas berbulan berlalu, pada saat pembagian tugas mengajar aku mendapatkan tugas di kelas 1 (satu). Ah kelas 1, aku mulai terpikir lintasan hatiku saat itu. Saat ku lihat nama absen siswa akhirnya benar terjadi, aku mengajar anak itu lagi. Dari tiga rombongan belajar siswa kelas satu, aku mendapatkan anak itu lagi. Hal yang aku hindari dari dulu akhirnya terjadi. Mungkin ini semacam sugesti ketakutan yang kualami, dan akhirnya benar-benar keturutan.
Aku merasa seringkali rasa takut yang menusuk ke hatiku lalu mulailah saat itu ada pergolakan di batin. Dan terucap kedalam hati, lambat laun hal tersebut terjadi. Pernah juga, saat melaksanakan diklat prajabatan CPNS Pemkot. Pada saat itu, tidak sengaja aku bilang, jangan sampai aku mendapatkan giliran saat bulan ramadhan. Karena maunya bulan ramadhan itu, bisa focus beribadah dan memperbanyak tilawah, bantuin ibuk membuat takjil serta makanan berbuka, tarawih di mushollah dekat rumah. Dan ternyata, tiba-tiba temanku memberi kabar bahwa aku dan dia satu kelompok, dan giliran kami ada di bulan ramadhan.
Ah, pupuslah harapanku dengan kata-kata Jangan yang kadang tetiba terlintas dibatinku ini. Aku kadang mengutuk diriku sendiri untuk tidak berkata Jangan lagi dan mengoceh sendiri didalam hati. Karena kadang kata Jangan yang terlintas itu biasanya akan keturutan. Maka, aku menghindari hal itu terjadi. Paling tidak sekarang aku bersyukur dengan apa yang ada saat ini, dan mengontrol diri untuk melawan ketakutan yang kadang terjadi.
Semakin aku takut dengan sesuatu terkadang sesuatu itu makin mendekat, dan PR ku sekarang adalah bagaimana cara mengola rasa takut itu dengan terus berprasangka baik dan berpikir positif. Dan apabila ternyata hal itu memang benar-benar kejadian?. Ah, mau bagaimana lagi. Tindakan terakhir yang harus dilakukan yaitu hadapi. Mungkin ada hal yang bisa aku pelajari dan aku petik dari ketakutanku ini. Dan baru aku sadari ketika kemudian hal itu terlewati.
Bukankah tugas kita sebagai hamba adalah senantiasa berprasangka baik kepada Allah?.

Komentar